.......................................................
.
Home » » Mengapa jumlah ghulat terbesar di dalam Tandhim Daulah adalah dari Tunisia?

Mengapa jumlah ghulat terbesar di dalam Tandhim Daulah adalah dari Tunisia?


Segala puji hanya milik Allah yang telah berfirman dalam kitabNya: “Dan demikianlah kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan” Q.S Al-Baqarah: 143. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan atas nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda: “Jauhilah sikap ghuluw dalam beragama, sungguh celakanya kaum sebelum kalian adalah karena sikap ghuluw mereka dalam beragama”. Amma ba’du:
Saya telah berjanji pada diri saya sendiri untuk menjelaskan sebab-sebab penyelewengan ini, dan siapa saja tokoh-tokoh yang berada dibalik pemahaman ini, serta instrumen-instrumen apa saja yang yang menyebabkan kemunculan fenomena ini. Oleh karena itu saya membagi riset ini dalam beberapa bagian, yang mana setiap bagiannya memiliki rincian pembahasan yang mudah dan terperinci.
Bagian pertama: Metode para thagut dalam menyebarkan pemahaman ghuluw 
Bagian kedua: Peran Media
Bagian Ketiga: Peran pergerakan-pergerakan Islam
Bagian Keempat: Peran Gerakan-Gerakan Jihad
Saya memohon pada Allah agar amal ini diberkahi dan Allah ridhai.

Bagian Dua: Peran Media
Bukan rahasia lagi bagi siapa saja yang memerhatikan revolusi Tunisia baik sebelum dan sesudahnya, bahwa medialah yang menjadi pilar utama bagi pemerintah untuk menjalankan hukum atau membuat pertimbangan dalam mengambil keputusan, atau dalam memerangi musuh-musuh mereka, dan menghancurkan citra lawan politik mereka.
Media telah memainkan peran yang sangat busuk sekali dalam menyebarkan sekularisme dan perang terhadap Islam. Media juga menjadi alat utama rezim Bin Ali untuk menghantam musuh-musuhnya dari berbagai sisi politik, gerakan atau mazhab tanpa ada pengecualian.
Setelah revolusi media kembali memainkan peran yang sangat busuk untuk menghancurkan tujuan-tujuan revolusi dan memburukkan citranya. Bahkan medialah yang menjadi pilar utama dalam penggagasan gerakan perlawanan terhadap revolusi. Media juga menjadi sebab utama dalam pertumpahan darah yang maksum dengan penyebaran berita-berita penuh fitnah dan dusta. Inilah yang dilakukan oleh stasiun TV Hannibal beberapa hari saja pasca Revolusi.
Beberapa media sangat kentara terlihat dukungannya terhadap rezim terdahulu, bahkan sebagian media dikendalikan dari belakang layar oleh pihak rezim terdahulu, mereka adalah kaum zindiq murtad yang semoga mendapat laknat Allah. Media ini telah berupaya semaksimal mungkin memerangi revolusi dan para revulusioner, dan menghantam proyek-proyek Islamiyah dengan berbagai cara khususnya melalui media televisi, radio dan cetak.
Setelah kemenangannya dalam pemilu dan mengambil alih mandat kekuasaan, Partai An-Nahdhah telah berupaya untuk mengontrol media dengan cara mengambil alih stasiun televisi nasional dan surat kabar pagi nasional. Namun upaya itu berbenturan kuat dengan kaum sekuler dan jurnalis liberal, sehingga kampanye busuk pun berlangsung sengit untuk merusak citra Partai An-Nahdhah saat itu. Dengan tekanan sedemikian rupa, akhirnya Partai An-Nahdhah membiarkan kaum sekuler menjalankan propaganda media semau mereka, saat itulah Partai An-Nahdhah telah kalah pertama sekali dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Bahkan kaum sekuler dan liberal beranggapan bahwa saat itulah momen kemenangan mereka atas kaum Islamiyin.
Saat itu media dengan membabi buta memerangi syiar-syiar dan hukum syariat. Mereka mulai dengan mengingkari syariat atas kaum muslimah, dan mencela kenabian Muhammad Shalalallahu alaihi wa sallam, dan mencela para sahabat, mengolok-olok agama, bahkan sampai mencela Tuhan dan hal-hal mengerikan lainnya.
Perang media ini dipimpin oleh beberapa tokoh jurnalis fasiq semisal Naufal Al-Wartani, Haitsam Al-Maki, Sufyan bin Humaydah, Sufyan bin Farhat, Mukhtar Al-Khalfawi, Hamzah Al-Balumi, Muhammad Abu Ghallab, Luthfi Al-Imari, dan Maya Al-Qaswari. Adapun dari kalangan para penulis, antara lain ada Yusuf As-Siddiq yang menyangsikan kenabian Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, serta Muhammad At-Talibi yang membolehkan zina, homeseksual, lesbianis dan minum khamar. Serta beberapa stasiun televisi seperti channel Nismah yang memerangi Islam paling dahsyat khususnya dengan menyiarkan film yang menghina Allah -wal iyadzubillah-.
Kita juga tidak lupa peran yang dimainkan oleh para jurnalis bayaran yang dibayar untuk memainkan propaganda atas jama’ah-jama’ah Islamiyah. Mereka muncul di stasiun-stasiun televisi nasional, dan menulis di berbagai surat kabar dan majalah, serta berkampanye di media internet. Mereka membahas tentang jama’ah-jama’ah jihad serta metode dan cara bekerja jama’ah ini. Adapun analisa-analisa yang mereka berikan adalah sangat dangkal dan bodoh berkaitan dengan manhaj jama’ah-jama’ah yang mereka bahas, sehingga mempengaruhi pembaca dan penonton untuk memandang buruk pada jihad dan mujahidin. Diantara jurnalis bayaran yang paling terdepan dan paling terkenal dalam menyerang mujahidin yaitu Tariq Al-Kahlawi, Nuruddin Al-Mubaraki, Hadi Yahmud “penulis buku Tahta Rayatil I’qab (Dibawah Panji Hukuman) kita akan bahas sosok satu ini di bab selanjutnya. Buku kontroversi yang ia tulis telah dilarang beredar akhir-akhir ini, dan sosok yang satu ini juga dianggap memiliki hubungan spesial dengan pihak intelijen, dan ia aktif menulis di surat-surat kabar Ibrani tentang isu-isu Tunisia dengan menggunakan nama alias. Tokoh yang lain ada Al-‘Allani yang menyebut dirinya sebagai pakar pergerakan jama’ah-jama’ah Islamiyah, dan dia telah menulis banyak buku dalam tema ini walaupun semuanya hanya sampah yang tak berguna. Begitupula Riyadh As-Saydawi, dan Al-Muntakis Salahuddin Jawarsyi, dan Maghar Al-Bayi (Jurnalis yang bekerja untuk sebuah surat kabar yang memiliki hubungan dengan pihak intelijen).
Sebagaimana yang saya bahas di makalah saya yang terdahulu bahwa para thagut sangat senang menggunakan isu-isu penyelewengan yang terjadi pada jama’ah-jama’ah jihad demi kepentingan kaum kafir dan politiknya. Maka sosok Maghar Al-Bayi ini adalah salah satu pencetus istilah isu dusta tentang “Jihad Nikah”, dan ia memiliki hubungan erat dengan pihak intelijen Hizbullat di Lebanon, serta dengan sisa-sisa pendukung setia Al-Qadhafi di Libya. Begitulah para jurnalis bayaran ini memainkan peran busuk mereka menggiring opini publik demi kepentingan thagut dan intejilen baik dalam skala lokal maupun global.
Stasiun-stasiun televisi ini siang dan malam menyiarkan siaran-siaran bernuansa barat dengan cara-cara yang amat busuk dan penuh tipu daya syaithan. Tujuan mereka adalah untuk merusak para pemuda, menyebarkan kefasiqan dan kefajiran di tengah umat. Sebagaimana akhir-akhir ini mereka dengan berani menyuguhkan tayangan bernuansa “Gay dan Homoseksual” dengan dalih kebebasan individu, mereka juga mendesak agar “Gay dan Homoseksual” segera diakui legal dalam undang-undang negara, mereka menuntut perlindungan hukum bagi kaum “Gay” untuk hidup aman dengan aktifitas penyimpangan seks ini.
Partai An-Nahdhah telah berupaya untuk menggulirkan stasiun-stasiun televise tandingan dalam rangka menghadapi kaum sekuler disana. Namun semua upaya itu telah gagal total dan tidak berhasil, seperti channel Az-Zaytunah yang terkena dampak kampanye agresif lawan dan sekarang sedang diusahakan untuk ditutup.
Metode-metode yang mereka tempuh untuk menyerang Islam sangat beragam dan banyak sekali, dan tidak mungkin untuk diurai serta disebut satu persatu. Kesimpulannya mereka telah berhasil menyerang revolusi dan berhasil mengembalikan rezim yang telah digulingkan kembali ke kekuasaan pada hari ini, dan khususnya mereka telah berhasil memburukkan citra gerakan jihad dan menjadikan umat antipasti terhadapnya. Keberhasilan mereka dapat dilihat dari munculnya kebencian umumnya masyarakat atas gerakan jihad, sehingga kini masyarakat bersatu dengan para thagut untuk memerangi ahlul haq, Wallahu Al-musta’an.
Semua inilah yang akhirnya menjadi sebab menyebarnya fikrah ghuluw diantara para pemuda Tunisia yang masih mencintai dien mereka.
Bagian Ketiga: Peran Gerakan-Gerakan Jihad
Gerakan Islam telah tumbuh dan berkembang ke dalam berbagai jama’ah-jama’ah yang beraneka ragam dan beraneka manhaj serta fikrah. Gerakan-gerakan ini memiliki perbedaan dalam banyak persoalan, pergerakan mereka juga sangat dipengaruhi oleh para pengikut dan anshar masing-masing jama’ah. Bahkan diantara jama’ah-jama’ah yang ada ini mereka saling bermusuhan dan saling berbeda pendapat dalam banyak hal.
Gerakan-gerakan jihad yang muncul dan berkembang jumlahnya sangat banyak sekali, namun yang paling besar dan berpengaruh terdapat 5 gerakan:
Pertama: Ikhwanul Muslimin
Di Tunisia mereka direpresentasikan oleh Partai An-Nahdhah yang dipimpin oleh Rashid Al-Ghannushi. An-Nahdhah adalah gerakan Islam terbesar dan gerakan yang paling besar pendukungnya di seluruh Tunisia. Saya tidak ingin membahas manhaj jama’ah ini dalam kesempatan ini, tema ini sudah tidak asing lagi bagi setiap pengikut Harakah Islamiyah. Fokus pembahasan saya adalah metode-metode yang An-Nahdhah lakukan dalam memerangi gerakan-gerakan jihad, sehingga menyebabkan para pemuda dari gerakan-gerakan itu bersikap ghuluw.
An-Nahdhah telah terlibat aktif dalam percaturan politik Tunisia, walaupun banyak sekali Ulama yang menasehati agar mereka tidak masuk kedalam pemerintahan, karena langkah itu tidak memberikan maslahat apapun untuk Islam dan umat. Dan kini mereka telah mengalami kegagalan yang paling parah dan mengalami kemunduran dahsyat dari pijakan-pijakan dien yang lurus dibawah tekanan dewasa ini.
Gerakan An-Nahdhah pada awalnya tumbuh dengan cara merekrut para pemuda jihadi ke dalam barisannya, karena An-Nahdhah tidak memiliki sistem kaderisasi pemuda pada saat itu, dan sebagian besar kader mereka adalah orang tua dan kaum muslimin awam. Mereka tumbuh dengan menempuh berbagai metode dan jalan seperti menekan para Masyayikh dan para Da’i untuk menyerukan fatwa bolehnya An-Nahdhah terlibat dalam pemilihan umum pertama pasca revolusi. An-Nahdhah juga aktif mengundang para Da’i dari luar negeri untuk mempengaruhi dan merekrut para pemuda jihadi, mereka telah senantiasa berupaya untuk merekrut para pemuda khususnya disaat terjadi perang politik sengit antara Islamiyun dengan kaum sekuler. Pada saat-saat genting itu An-Nahdhah sangat bergantung pada para pemuda jihadi yang mana mereka telah aktif mengirim surat-surat ancaman pada lawan politik An-Nahdhah saat itu. Namun semua upaya itu telah gagal total saat ini.
Setelah An-Nahdhah gagal merekrut para pemuda ke dalam barisannya, maka mereka mulai mengumumkan perang atas gerakan-gerakan jihad dan atas para masyayikh jihad dengan cara melemparkan tuduhan atas mereka, dan mendukung upaya penangkapan dan pembunuhan atas aktivis gerakan jihadi. Sebagaimana Al-Ghannushi telah berterus terang di banyak kesempatan dan mengambil jarak yang semakin jauh dari kita.
Disini saya ingin mengingatkan pengkhianatan yang telah dilakukan Partai An-Nahdhah atas sekutunya sendiri Munshif Al-Marzuqi pada Pemilu terakhir. Dimana An-Nahdhad membuat keputusan untuk mendukung Al-Baji Qaid As-Sibasi (Pengacara dan politisi asal Tunisia yang menjabat sebagai Presiden Tunisia sejak Desember 2014 –red). Telah diadakan sebuah pertemuan di rumah Al-Ghannushi di Komplek Al-Ghazalah beberapa hari sebelum Pemilu, pertemuan tersebut dihadiri oleh Luthfi Zaitun dan para petingggi lainnya bersama anggota syura partai tanpa kehadiran awak media. Mereka bersepakat untuk memenangkan As-Sibasi dan mengalahkan Al-Marzuqi, dan perkara ini mereka lakukan karena tuntutan dan lobi Amerika melalui kedutaannya disana. Sungguh ini bukanlah kali pertama gerakan Islam yang paling besar massanya ini berkhianat.
Kedua: Kalangan Salafi Moderat
Gerakan ini direpresentasikan oleh Jabhah Al-Ishlah, Hizbul Ashalah, dan Hizbun Nur. Jama’ah-jama’ah ini menggabungkan pendekatan manhaj Salafiyah dengan manhaj Al-Ikhwan sehingga mereka juga masuk dan berjuang melalui parlemen. Mereka juga telah berupaya untuk merekrut para pemuda jihadi ke dalam barisan mereka, namun upaya itu mengalami kegagalan.
Dalam waktu yang singkat partai-partai ini telah runtuh, itu disebabkan karena lemahnya kader-kader mereka dan sedikitnya jumlah simpatisan mereka. Mereka juga telah menempuh jalan yang dilakukan Partai An-Nahdhah dalam menyerang gerakan jihad. Partai-partai ini telah ikut berkontribusi khususnya Jabhah Al-Ishlah dalam menjelekkan citra gerakan-gerakan jihad melalui media massa dengan pernyataan-pernyataan resmi mereka.
Ketiga: Kalangan Salafi Fanatik
Gerakan ini direpresentasikan oleh Rabithah Ulama Tunisia yang dipimpin oleh Syaikh Husain Syawath, Syaikh Mukhtar Al-Jibali, Al-Muhaddits Toha Bawasrih, Kamal Al-Marzuqi, dan Basyir bin Hasan. Rabithah inilah gerakan yang pertama sekali mengumumkan perang terhadap gerakan jihadi di Tunisia, hal itu terjadi setelah peristiwa Ar-Rawahiyah yang telah menewaskan Syaikh Al-Mujahid Munir At-Tunisi dan para ikhwan yang bersama beliau dalam sebuah baku tembak dengan tentara thagut.
Mereka mengeluarkan pernyataan tulis resmi yang mengutuk gerakan jihad dan menuduh gerakan jihad sebagai para khawarij yang mengusung pemahaman takfiri dan berdarah dingin. Pernyataan resmi ini ternyata menjadi pukulan telak atas Rabithah, yang mana tidak berlalu hari setelah itu melainkan menggoyang keutuhan mereka dan menyebabkan Syaikh Mukhtar Al-Jibali keluar dari Rabithah. Syaikh Mukhtar berkata pada ikhwan-ikhwannya: “Lebih baik aku berdosa dalam kebenaran daripada aku menjadi pemimpin dalam kebatilan.” Semenjak itu Rabithah semakin menghilang ditelan bumi, mereka hanya mengeluarkan beberapa bayan saja yang tidak memberikan kesan dan dampak apapun di Tunisia, dan saat ini umat Islam di Tunisia tidak lagi menghormati mereka sebagaimana sebelumnya.
Para masyayikh gerakan ini dikenal sangat membenci gerakan jihad, contohnya Basyir bin Hasan yang telah mengumumkan perang atas gerakan jihad pasca peristiwa Ar-Rawahiyah, dimana ia memberikan khutbah dengan judul “Khawarij Masa Kini”. Dia juga menjadi pembicara di berbagai muhadharah serta menghadiri pertemuan di stasiun-stasiun televisi nasional, disana ia mengutuk gerakan jihad dan mewanti-wanti manusia untuk menjauhi gerakan jihad, dan menjelekkan citra jihad pada khalayak.
Tokoh Salafi satu ini (Basyir bin Hasan) juga dikenal sangat mendukung Partai An-Nahdhah dan selalu membela mereka. Dia juga telah terlibat aktif dalam kampanye pemilu kandidat sekuler Munshif Al-Marzuqi. Sebenarnya dia selama ini hanya dimanfaatkan saja oleh An-Nahdhah, dan akhirnya ia dibenturkan ke dinding oleh An-Nahdhah.
Adapun Kamal Al-Marzuqi hakikat dirinya memang telah terungkap sejak lama, yang mana ia dikenal terbiasa melakukan pemalsuan ilmiah dan melakukan penjiplakan (plagiat) atas karya-karya penulis lain. Lalu dia menghilang selama dua tahun dari muka umum dan setelah itu ia kembali ke Universitas Imam Malik di kuliah syari’ah, dia tidak memberikan dampak apapun di masyarakat.
Diantara semua tokoh salafi Tunisia maka Syaikh Husein As-Syawath adalah yang paling berilmu dan paling bersikap wara’ (rendah hati). Setelah kasus ia menghujat gerakan jihad dan tokoh-tokoh jihadi, secara terbuka ia menyatakan kekeliruannya dan meralat pernyataannya yang dahulu, dan ia juga telah memohon maaf dengan tulus. Sedangkan Syaikh Mukhtar Al-Jibali, tokoh salafi satu ini telah dikenal luas sanantiasa membela gerakan jihad di media. Bahkan dia menghadiri muktamar kedua Anshar Syariah Tunisia, dan ia memiliki hubungan sangat dekat dengan Syaikh Abu I’yadh dan Syaikh Al-Khatib Al-Idrisi (Tokoh ulama jihadi Tunisia –red), dan tidak pernah terjadi gesekan berarti antara beliau dengan gerakan jihadi di Tunisia kecuali hanya pada perbedaan pendapat yang lumrah. Adapun Syaikh Al-Muhaddits Taha Bawasrih tidak didapatkan satupun pernyataan beliau yang ditujukan untuk menyerang gerakan jihad. Sosok satu ini adalah seorang intelektual yang fokus dalam ilmu hadits dan bahkan beliau sangat disukai dikalangan pemuda gerakan jihad. Dan terakhir Qais Al-Khiyari, ia adalah sosok yang sangat vokal dan sengit menyerang gerakan jihad walaupun ia dikenal sebagai orang yang berpendidikan. Merekalah segelintir tokoh yang paling dikenal di kalangan salafi Tunisia.
Keempat: Kalangan Asy’ariyah
Pengikut mereka jumlahnya sangat besar di Tunisia, mereka memiliki kekuasaan yang luas dan memegang banyak masjid. Mereka terbagi dalam banyak kelompok yang saling berbeda pandangan dan sikap, diantaranya adalah:
1. Kalangan pengikut masyayikh Universitas Zaitunah, dipimpin oleh Syaikh Husein Al-A’bidi, tidak terjadi pergesekan berarti antara mereka dengan gerakan jihad.
2. Pengikut “Jam’iyyah At-Tunisiah Lil Ulum As-Syar’iyyah” yang dipimpin oleh Nuruddin Al-Khadimi, dia adalah mantan Menteri Agama terdahulu, dan ia dikenal ahli dalam ilmu Ushul dan Maqasid. Ia telah menghujat dan memfitnah gerakan jihad di berbagai stasiun Televisi, dan baru-baru ini ia dilarang tampil berbicara di depan umum.
3. Pengikut “Jam’iyyah Zaitunah Lil Ulumil Hadits” yang dipimpin oleh si murtad penyembah kubur Farid Al-Baji. Ia diklaim sebagai Al-Habsyi, padahal yang benar adalah ia seorang Asy’ari penyembah kuburan, dan dia adalah sosok yang paling terdepan dan paling lantang bahkan tidak ada duanya dalam menyerang gerakan jihad di Tunisia, bahkan ia menyerukan untuk menangkap dan membunuh para pemuda jihadi. Si durjana ini aktif bekerja di lembaga negara untuk menyerang mujahidin “Badan Riset Intelijen dan Keamanan Tunisia”.
Kelima: Kalangan Hizbut Tahrir
Gerakan ini dikenal sebagai kalangan yang paling dekat dengan gerakan jihad khususnya dengan Syaikh Abu Iyadh dan Tandhim Anshar Syariah. Tidak ada permusuhan dari mereka atas gerakan jihad, melainkan hanya ikhtilaf yang lumrah dan mereka pada umumnya senantiasa membela gerakan jihad pada banyak kesempatan.
Demikianlah beberapa gerakan-gerakan Islam terbesar yang eksis di Tunisia dan paling berpengaruh.
Bagian Keempat: Peran Gerakan Jihad
Semenjak terjadinya berbagai fitnah dan ujian atas umat Islam yang meliputi berbagai bangsa dan daerah dan terpecahnya kesatuan mereka, maka semakin bertambah pula penjajahan musuh dan agenda-agenda penghancuran mereka atas kita, dan kita semakin tidak bisa belajar dari pengalaman masa lalu.

Dari sekian banyak negara-negara di dunia Islam, Tunisia adalah negara yang paling sedikit konflik dan gejolak perlawanan di dalam negerinya. Sangat sedikit pula yang menyadari betapa penting dan strategisnya peran Tunisia dalam skala dan level Internasional. Dari kacamata politik, ekonomi dan militer, maka Tunisia berada di posisi sangat strategis yang menghadap cekungan Mediterania dan kedekatannya dengan Eropa dan wilayahnya dihuni oleh masyarakat majemuk dari berbagai suku bangsa dari seluruh dunia. Selama ini banyak pihak melihat Tunisia dengan pandangan sekilas yang tidak teliti dan tidak mendetail. Banyak pihak melihat Tunisia hanya sebagai negara dengan wilayah yang kecil di mana percikan pemberontakan Arab pecah pada 17 Desember 2010 silam atau yang disebut dengan “Revolusi Yasmin”. Sangat sedikit orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar dari berbagai proyek jahanam yang diagendakan serta kepentingan-kepentingan pejajahan yang dijalankan disana, yang mana pada hakikatnya berkaitan dengan kepentingan Umat Islam keseluruhan. Sebagian besar gejolak dan konflik yang kini terjadi di Timur Tengah semuanya diracik di Tunisia, khususnya apa yang sekarang sedang terjadi di Irak dan Syam.
Gerakan jihad telah muncul di Tunisia jauh sebelum pecahnya revolusi, di mana mereka telah mengalami penyiksaan yang amat berat di era Ben Ali (mantan diktator Tunisia sebelum revolusi –red). Sebagian besar kader mereka telah dijebloskan ke dalam penjara dan mendapatkan siksaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata. Gerakan ini telah mencoba untuk menggagas berdirinya Jama’ah Jihad untuk bisa melakukan asksi militer di dalam Tunisia. Puncaknya terjadi pada tahun 2007 silam yang lebih dikenal dengan nama “Tragedi Sulaiman”, di mana terjadi penyerangan bersenjata oleh gerakan jihad atas tentara Thagut, aksi ini berkahir dengan banyaknya jumlah korban yang gugur dari kalangan para ikhwan.
Semenjak sebelum revolusi tidak pernah dikenal adanya penyimpangan dalam persoalan aqidah dalam gerakan jihad di Tunisia sebagaimana yang kita saksikan hari ini, kecuali pada beberapa persoalan saja yang tidak ada efek berarti. Pasca Revolusi, ratusan pemuda gerakan jihad Tunisia turung gunung dan kembali ke rumah masing-masing, momen itu dikenal dengan istilah “Rekonsiliasi dan Pemberian Ampunan Massal”. Setelah itu mereka mulai bekerja dan membaur kembali dalam masyarakat, dan mereka mengadakan daurah-daurah syar’iyyah yang diadakan di seluruh penjuru selatan, utara, timur dan barat Tunisia, sejak itu gerakan jihad mulai membaur dan tesebar luas serta beraktifitas di tengah-tengah masyarakat umum.
Beberapa waktu kemudian, gerakan jihad mulai meluas dan menyebar keseluruh pelosok Tunisia. Jumlah simpatisan dan pengikut gerakan ini bertambah drastis, dan fakta ini telah mengejutkan dan menjadikan musuh ketakutan dan mulai menekan yayasan-yayasan dakwah dan program-program mereka dengan berbagai cara. Para pemuda jihadi yang baru dikader mulai terprovokasi untuk melawan sebelum waktunya, dengan kadar ilmu yang minim dan bermodal semangat berlebihan mereka mulai lepas kendali, bahkan para masyayikh dan para da’i tidak dapat mengontrol mereka lagi.
Sebelum peristiwa itu, gerakan jihad berada dalam satu naungan dan komando yang sama. Mereka dipimpin oleh para masyayikh yang berilmu, diantaranya adalah Syaikh Abu Iyadh dan Syaikh Khatib Al-Idrisi. Pada saat itu tidak pernah terjadi perpecahan dan penyelewengan manhaj, melainkan mereka amat kokoh dan bersatu padu. Para Masyayikh dan para da’i gerakan jihad telah berjuang untuk menjaga arah manhaj dari penyelewengan dan infiltrasi fikrah-fikrah yang menyimpang. Yang ditakutkan saat itu adalah menyebarnya fikrah murjiah di kalalang kader jama’ah, namun hal tersebut berhasil ditanggulangi dengan baik. Namun sangat disesalkan, akibat antipati terhadap fikrah murjiah, para kader mulai dijangkiti virus khawarij. Sejak saat itu para kader baru gerakan jihad semakin menyimpang hingga seperti yang kita saksikan hari ini, wallahu musta’an.
Sebagaimana yang saya sebutkan diatas, sebelumnya jama’ah jihad sangat solid dan bersatu padu walaupun terdapat beberapa perbedaan pendapat. Namun setelah terjadinya deklarasi Tandhim Anshar Syariah Tunisia yang dipimpin oleh Syaikh Abu Iyadh bersama para da’i dan para mujahidin dari berbagai front jihad, pada saat itulah perbedaan pandangan mulai sengit dan menyebar luas. Khususnya setelah Syaikh Khatib Al-Idrisi dan sebagian masyayikh dan da’i lainnya menolak proyek Anshar Syariah Tunisia, dengan berbagai alasan diantaranya bahwa belum tepat waktunya untuk bertandhim atau saat itu lebih baik bergerak tanpa nama tertentu. Sedangkan Tandhim melihat bahwa para pemuda membutuhkan pembinaan dan pendidikan yang optimal sebelum misi lainnya.
Perselisihan itu akhirnya semakin meruncing dan sengit, dan tanda-tanda perpecahan mulai kelihatan dengan menyebarnya fitnah, umpatan serta upaya memecah belah lainnya. Hingga sampai pada tahap saling menvonis “fajir” dan saling menuduh berkhianat. Semenjak deklarasi Anshar Syariah Tunisia beserta program-programnya, dan semenjak kehadiran mereka yang terang-terangan di lapangan dengan kader yang membawa nomer anggota, maka musuh pun mulai melancarkan serangan dengan memobilisasi intelijen global dan lokal untuk menembus dan merusak proyek Tnadhim dengan segala cara.
Tahap-tahap Pengrusakan:
A. Konspirasi hijrah ke Syam:
Ketika revolusi Suriah pecah dan jihad diumumkan disana, banyak sekali para kader jihadi berhijrah ke Suriah untuk memerangi Nushairiyah. Ribuan dari mereka telah berhijrah kesana dibawah pengethuan dan pengawasan Badan Intelijen dan otoritas keamanan yang telah mengizinkan mereka melakukan hijrah dengan syarat yang sesuai dengan undang-undang negara. Mereka berangkat ke Suriah secara berkelompok, kadang jumlah mereka belasan hingga puluhan dalam sebuah kloter di bandara negara dengan menggunakan paspor dan dokumen-dokumen resmi.
Badan Intelijen dan otoritas keamanan telah mengumpulkan semua data para pemuda jihadi yang berhijrah ke Suriah. Sebelumnya Syaikh Abu Iyadh dan para pimpinan Tandhim Anshar Syariah Tunisia dan begitu juga Tandhim Al-Qaeda Fi Biladil Magrib Islami telah mewanti-wanti para pemuda dari program tersebut dan mereka melihat semua itu sebagai upaya intelijen yang terencana. Tujuan dari semua itu adalah untuk mengosongkan Tunisia dari para pemuda jihadi, dan hal seperti ini bukanlah kali pertama dilakukan oleh pihak intelijen. Pemerintah pada awal era As-Sibasi (setelah Ben Ali melarikan diri dan sebelum Pemilu pertama dilaksanakan dan Partai An-Nahdhah bergabung dalam koalisi pemerintahan), As-Sibasi telah mengizinkan para pemuda untuk bermigrasi ke Eropa dengan cara yang illegal namun dibawah pengawasan pemerintah. As-Sibasi telah menjalin kesepakatan dengan negara-negara Eopa untuk menerima ribuan pemuda Tunisia yang datang kesana, khususnya dengan Italia. Tujuan dari semua itu adalah untuk mengosongkan Tunisia dari para pemuda yang kemungkinan bisa menjadi bahan bakar revolusi selanjutmya disana.
Hal yang sama berulang pada gerakan jihadi, tujuan utama dari pembiaran ribuan para pemuda jihadi melakukan hijrah ke Suriah adalah untuk mengosongkan Tunisia dari pemuda jihadi dan memudahkan langkah pemerintah untuk menekan gerakan jihad dan mengembalikan sistem otoriter dalam pemerintahan negara. Upaya ini merupakan rancangan Yahudi-Salibis Internasional dibawah pengawasan Tunisia, yaitu membunuh dua burung dengan satu lemparan batu. Musuh memanfaatkan pergerakan Islam di Tunisia dengan menunggangi oknum-oknum menyimpang dan memfasilitasi mereka dengan tujuan menghancurkan citra Jihad dan kampanye buruk atas Al-Qaeda. Di satu sisi mereka ingin mengosongkan Tunisia dari para pemuda jihadi dan sisi lain mereka ingin mengumpulkan para ghulat (ekstrimis) sebanyak-banyaknya di Syam dan Irak, untuk kepentingan agenda mereka di Timur Tengah berupa penyebaran fitnah dan mendistorsi jihad sehancur-hancurnya.
B. Permainan thagut dan badan Intelijen dalam menyebarkan pemahaman ghuluw
C. Pemisah antara “Pimpinan” dan “Orang lapangan”:
Ketika terjadi peristiwa penyerangan kedutaan besar Amerika di Tunisia, Syaikh Abu Iyadh diincar dan menjadi DPO otoritas keamanan, dan banyak sekali para pimpinan dan kader yang ditangkap. Kemudian para pemuda mulai lepas kendali dari pusat komando Jama’ah, tidak ada lagi yang mengontrol dan mengarahkan mereka. Maka penyelewengan mulai terjadi disana-sini dan tidak ada lagi yang namanya kepatuhan atau ketaatan, serta tidak ada lagi rasa hormat kepada para masyayikh dan para da’i.
Pihak intelijen Tunisia mulai menyadari betapa pentingnya untuk memisahkan para pimpinan (qiyadah) dengan jajaran lapangan mereka. Maka otoritas mulai memburu dan menangkap para murabbi yang berpengaruh dan yang berpengalaman serta bijaksana yang menjadi pengarah para pemuda dan menjadi panutan di kalangan gerakan jihad. Mereka dijebloskan ke dalam penjara khusus dan dihalangi untuk mendapatkan akses komunikasi dengan para kader. Hal tersebut telah memukul telak dan merusak tatanan gerakan jihad di dalam banyak aspek.
Disaat keadaan seperti inilah muncul fitnah Jama’ah Daulah, dan berhasil memanfaatkan momen perpecahan gerakan jihad Tunisia dalam propaganda sistematis untuk menarik para pemuda.
D. Jama’ah Daulah dan “rumus” pemerintah yang berkuasa:
Sebagaimana telah saya jelaskan diatas bahwa para thagut telah mendorong para pemuda untuk melakukan hijrah ke Suriah dengan tujuan untuk mengosongkan Tunisia dari para pemuda jihadi, dan di waktu yang sama telah muncul pihak-pihak mencurigakan yang memiliki hubungan dengan Jama’ah Daulah untuk memudahkan para pemuda untuk hijrah dari Tunisia baik dengan membiayai mereka dan mengatur kepergian mereka. Pihak-pihak mencurigakan ini bergerak bebas di Tunisia di depan mata badan intelijen tanpa mendapat masalah apapun, dan sebagian dari pihak ini memiliki hubungan dengan rezim terdahulu, sebagian mereka juga merupakan agen kementrian kedaulatan. Mereka berhasil memikat para pemuda dengan uang dan perpecahan yang sedang terjadi serta kejahilan dan kedunguan para kader labil ini.
Mereka juga memanfaatkan kesibukan tanhim Anshar Syariah yang memiliki banyak sekali divisi. Sehingga akhirnya mereka terpecah, saling menghujat hingga saling mengkafirkan..
Pihak-pihak ini telah kita kenali identitas mereka, jika bukan karena pertimbangan mafsadat maka sudah kita keluarkan nama-nama mereka sebagaimana mereka memperlakukan saudara-saudara kita mujahidin di Libya yang mereka umumkan identitas serta tempat-tempat keberadaan mereka.
——————————————————————————————————————-
Sebelum mengakhiri risalah ini, saya ingin memperingatkan pembaca terhadap persoalan Syaikh Ahmad bin Umar Al-Hazimi. Sebagian orang telah mengklaim bahwa beliau lah yang menjadi sebab utama penyelewengan ini, sebenarnya beliau adalah bagian kecil saja dari penyelewengan ini. Karena beliau telah berubah selama berada di Tunisia setelah diingatkan oleh para masyayikh, dan telah terdapat kebaikan dari pandangan-pandangan beliau yang tersebar di kalangan para pemuda, wallahu a’lam.

Saya tidak ingin memperpanjang pembahasan mengenai persoalan Syaikh Ahmad bin Umar Al-Hazimi, insyaAllah di kesempatan yang lain saya akan menceritakan dengan rinci mengenai hal tersebut.
Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan pesan kepada para masyayikh dan para pimpinan kita, saya ingin katakana bahwa Tunisia sangat membutuhkan arahan dan nasehat kalian. Janganlah kalian kikir kepada kami dalam memberikan nasehat sedangkan kami sangat membutuhkan nasehat kalian dan keadaan sangat tidak memungkinkan lagi untuk sekedar berdiam diri saja. Sungguh kalian wajib menasehati, mengarahkan dan meluruskan kami. Dan kami ingin berikan kalian kabar gembira bahwa saudara-saudara kalian di Tunisia berada dalam kebaikan yang amat besar saat ini, walaupun dengan segala kekurangan yang kami pikul dan banyaknya musuh dan pengkhianat serta serangan yang bertubi-tubi atas kami. Sungguh disini masih ada para pejuang yang beramal secara rahasia, mereka berjuang untuk menolong dien ini dan untuk menegakkan kalimat Allah Azza wa Jalla. Mereka adalah Katibah U’qbah bin Nafi’ yang semakin maju hari demi hari, dan terus maraih kemenangan-kemenangan yang signifikan walau harus tertatih dan terluka.
Wallahu A’lam dan shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Share this article :
 
Template Design by Creating Website Published by Mas Template